Masuknya
Taekwondo di Indonesia dipengaruhi oleh para pelajar dan mahasiswa
Indonesia yang belajar ke luar negeri yang kemudian dibawa ke
Indonesia. Pada Mei 1972, beberapa mahasiswa Indonesia yang pernah
belajar Taekwondo di Jerman Barat, dalam waktu liburannya kembali ke
Indonesia lalu mereka mencari perguruan Taekwondo di
Jakarta untuk melanjutkan latihan. Secara kebetulan, terdapat pemegang
sabuk hitam Taekwondo yang datang dari Belanda namun merupakan warga
Indonesia keturunan Ambon yang bernama Mouritsz Dominggus. Konon ditengarai, beliau telah membuka perguruan Taekwondo di Tanjung Priok.
Pada 15 Juli 1974 terbentuklah Institut Taekwondo Indonesia (INTIDO) dan pada saat itu penasehatnya dijabat oleh Prof. Kim Ki Ha
yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Korea di Indonesia. Pada 27
Agustus 1975, Kim Ki Ha diutus ke Seoul guna mengikuti Sidang Umum WTF
II dan pada saat itulah belia memperjuangkan agar INTIDO dapat diterima
sebagai anggota WTF. Untuk memenuhi persyaratan WTF, maka nama INTIDO
diubah menjadi Federasi Taekwondo Indonesia (FTI).
Dalam sejarah perkembangan Taekwondo di Indonesia terdapat 2 organisasi Taekwondo yaitu :
- Persatuan Taekwondo Indonesia (PTI) yang berafiliasi ke ITF dipimpin oleh Letjen. Leo Lopolisa
- Federasi Taekwondo Indonesia (FTI) yang berafiliasi ke WTF dipimpin oleh Marsekal Muda Sugiri.
Pada
tanggal 28 Maret 1981 terjadi sejarah baru bagi Taekwondo Indonesia.
Saat itu telah diadakan Musyawarah Nasional (MUNAS) I yang diikuti oleh
kedua organisasi diatas. Dari musyawarah itu dihasilkan suatu keputusan
baru yaitu menyatukan kedua organisasi tersebut menjadi satu induk
organisasi Taekwondo yang hanya diakui oelh WTF dan KONI, yaitu Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) dengan Jend. TNI AD (Purn) Sarwo Edhie Wibowo sebagai ketua umumnya yang pertama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar